Jumat, 3 Juli 2020
News & Nature

Belanja Online Meningkat, Sampah Plastik Mengikuti

Senin, 25 Mei 2020

Sebanyak 96% paket dari toko online dibungkus dengan plastik dan tambahan bubble wrap

ef434954-db0f-4cbe-b6d1-1a975635d88c.jpg
lipi.go.id

Jakarta – Sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 dan masyarakat tidak lagi leluasa berbelanja ke pusat perbelanjang, terjadi peningkatan belanja melalui internet atau belanja online. Sementara 96% paket dibungkus dengan plastik dan tambahan bubble wrap.

“Hanya separuh dari warga yang memilah sampah untuk didaur ulang. Hal ini berpotensi meningkatkan sampah plastik dan menambah beban tempat pembuangan akhir selama PSBB/WFH,” ujar peneliti Pusat Penelitian Oseonografi LIPI, Intan Suci Nurhati dikutip dari lipi.go.id.

______________________________________________________________________

Baca juga: Jangan Anggap Enteng Perubahan Iklim

______________________________________________________________________

Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI dalam rilis hasil studi “Dampak PSBB dan WFH Terhadap Sampah Plastik di kawasan Jabodetabek” menemukan, frekuensi belanja online meningkat dari 1 hingga 5 kali dalam satu bulan, menjadi 1 hingga 10 kali selama PSBB.

Melalui survei online yang dilakukan pada 20 April hingga 5 Mei 2020, ditunjukkan bahwa belanja online, termasuk layanan antar makanan online menggunakan berbagai bahan plastik, antara lain selotip, bungkus plastik, dan bubble wrap membuat jumlah sampah plastik dari bungkus paket mengungguli jumlah sampah plastik dari kemasan yang dibeli.

______________________________________________________________________

Baca juga: Meredam Pulau Bahang di Kota Kita

______________________________________________________________________

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa 60% responden menilai bahwa penggunaan bungkus plastik tidak mengurangi risiko terpapar Covid-19. Hal ini sesuai dengan penelitian bahwa virus Covid-19 dapat bertahan di permukaan plastik selama tiga hari, lebih lama dibanding permukaan lain seperti kardus atau stainless steel.

Data survei LIPI juga mengungkap tingkat kesadaran warga yang tinggi terhadap isu sampah plastik. Namun, kesadaran masyarakat belum dibarengi dengan aksi nyata.  Oleh karena itu, Intan mengajak setiap individu untuk melakukan aksi nyata dalam mengurangi sampah plastik selama PSBB/WFH.

______________________________________________________________________

Baca juga: Melepas Elang, Tak Semata Membuka Kandang

______________________________________________________________________

Beberapa cara untuk mengurangi sampah plastik tersebut antara lain dengan mendukung penjual dan produk tanpa pembungkus plastik, meminta penjual untuk mengurangi pembungkus plastik.

“Membeli barang dalam kemasan besar atau menyatukan bermacam daftar belanjaan dalam satu pembelian, memanfaatkan kembali pembungkus plastik setelah dibersihkan, pilah sampah plastik untuk daur ulang bisa dilakukan. Selain itu membeli barang dari lokasi yang lebih dekat dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca,” paparnya.*



BAGIKAN

BERI KOMENTAR